Sandal Jepit Papa
Apen McCalister
“Bro, jangan lupa minggu depan ulang tahunnya Adila. Kita harus
tampil keren di pestanya. Kita harus beli baju baru, sepatu baru, biar terlihat
macho di depan Adila dan cewek-cewek.” suara dari telepon itu adalah Fery, temannya.
“Ok bro. Ini juga kesempatan terbaik untuk
nembak Adila.”
Mobil sedan Camry memasuki pelataran rumah megah bercat putih itu.
Lalu Hamdan, anak kelas dua belas SMA favorit di Jakarta itu, langsung berlari meninggalkan
sopirnya, Pak Iman. Entah ada apa ia begitu terburu-buru.
“Pa, Papa...” matanya berlarian mencari papa. Huhh..yang ada malah
Bi Jarni.
“Papa di mana, Bi?” tanyanya pada Bi Jarni yang sedang menyapu
lantai. Kemudian Bi Jarni mengarahkan mata belonya ke pekarangan, Hamdan
mengerti.
“Pa, Papa...”
“Kamu ini kebiasan kalau pulang. Jarang mengucap salam. Papa kan
sudah mengingatkan berkali-kali.”
“Mmm maaf, Pa. Tadi buru-buru” Hamdan
beralasan. Papanya paham betul kalau tiba-tiba anaknya mencarinya. Pasti ada
maunya. Yang sudah-sudah juga minta dibelikan sesuatu.
“Ada apa?”
“Mmmm ini, Pa. Aku mau minta dibelikan sepatu baru. Temanku ada
yang mau ulang tahun. Malu kan kalau aku pakai sepatu yang lama ke acara ulang
tahunnya.”
“Bulan lalu kamu baru saja beli. Masa sudah mau beli lagi. Jangan buang-buang
uang!”
“Lihat ini sandal papa!” lalu Hamdan melihat sandal jepit butut
papanya. Nampaknya sandal jepit yang sudah bosan putus itu terus dirawat hingga
banyak kawat-kawat yang mengikatnya. Warnanya sudah tidak karuan, sepertinya
sudah tua.
“Papa tidak pernah membeli sandal jepit lagi. Ini adalah sandal
jepit papa satu-satunya. Lalu kenapa kamu yang punya banyak sepatu bagus masih
minta dibelikan lagi?”
“Papa memang tidak mengerti! Ini masalah gaya. Papa kampungan!”
lalu berseloroh pergi.
Hamdan langsung ke kamar membanting pintu sekerasnya. Lalu melempar
tasnya sembarangan. Padahal ia tahu papanya memiliki banyak uang. Papanya
adalah pengusaha kaya raya yang memiliki salah satu gedung pencakar langit di
Jakarta. Asetnya bertebaran di beberapa kota Indonesia.
Hamdan memang selalu ingin tampil gaya. Semua barang-barang yang
dipakainya sudah pasti harganya selangit. Papanya tidak ingin memanjakan anak
semata wayangnya lagi. Sudah cukup. Sudah sepantasnya ia belajar menghargai kerja keras papanya dan tidak menghambur-hamburkan uang.
Esoknya papa sakit. Puluhan dokter dipanggil untuk mengobatinya namun tak
ada satu pun yang mampu. Mereka pun angkat tangan dan menyerah. Papanya sadar
mungkin ini saat-saat terakhir hidupnya di dunia. Dadanya semakin sesak.
Napasnya semakin berat. Ia sudah tidak kuat lagi.
“Hamdan, tolong nanti jika papa meninggal pakaikan sandal jepit kesayangan
papa di kaki papa pada saat dimakamkan. Sandal jepit ini adalah sandal yang paling papa
sayangi, sandal ini papa beli ketika
merintis bisnis hingga sukses sampai sekarang.” Pesan papa
kepada Hamdan.
Tidak lama dari itu, papanya benar-benar meninggal. Tetangga dan
kerabat mulai ramai untuk takziah. Hamdan masih
tidak percaya papanya pergi secepat ini. Air matanya diam-diam mengalir dari
pelupuk matanya. Ia tidak pernah sesedih ini sebelumnya.
Ustadz Sudi memberi komando agar jenazah segera dikuburkan.
“Pak Ustadz, boleh saya bicara sebentar?” Ustadz Sudi tersenyum,
“Silakan!” Hamdan menceritakan apa yang diamanatkan papa kepadanya. Ya,
memakaikan sandal jepit pada jenazahnya. Namun, Ustadz Sudi menolak keras.
Tidak boleh ada satu barang pun yang boleh di bawa ke dalam kubur kecuali kain
kapan.
Hamdan tetap memaksa. Entah bagaimana caranya amanat papanya bisa
dilaksanakan. Karena ia pikir inilah cara ia berbakti terakhir kalinya
untuk sang papa.
Namun Ustadz Sudi terus menolak dan tidak mengindahkan permintaannya.
Tiba-tiba datanglah Bu Noor,
tangan kanan papanya. Ia menyodorkan sebuah surat.
“Buka dan bacalah. Ini adalah wasiat dari papamu. Beliau meminta
saya untuk memberikan surat ini saat
beliau sudah tiada.”
Untuk anakku,
Nak, kamu pasti sedang bingung karena tidak dapat memenuhi
permintaan papa untuk memakaikan sandal jepit di jenazah papa. Sebenarnya permintaan
papa ini hanya ingin mengingatkan kamu, jika kita meninggalkan sandal jepit
saja tidak dapat ikut dibawa ke liang kubur. Jadi, janganlah menyibukan diri
dengan dunia sehingga lupa dengan apa yang akan kamu hadapi nanti yaitu
kematian. Karena kematian pasti datang ketika kamu siap atau tidak. Maka
bersiaplah selalu menyambutnya,
Papa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar