Pelatihan Bahasa Inggris di Cikarang
Melayani Pelatihan untuk:
1. Mahasiswa
2. Karyawan
3. Siswa
4. Umum
Akan dilatih oleh ahli bahasa inggris berpengalaman (penulis buku LET'S MASTER ENGLISH). Dengan metode yang asyik dan gampang dipraktekan. Atau ingin memesan buku Let's Master English silahkan hubungi
Hubungi:
08568962234 (TLP/SMS/WA) atau email
apen93sumardi@gmail.com
LET'S MASTER ENGLISH
Perum Permata Cikarang Timur Blok R6 no.6
My FLP, My First Love
Jumat, 05 Februari 2016
Selasa, 02 Februari 2016
Cinta Nabi Untuk Kita
Suatu
malam, Nabi pernah bercerita kepada para sahabat, “Wahai sahabat-sahabatku, aku
rindu kepada mereka yang paling kuat imannya. Tahukah kalian, siapakah mereka
yang paling kuat imannya?” Para sahabat menjawab, “Malaikat-malaikat, merekalah
yang paling kuat imannya!” Dengan tersenyum Nabi pun menjelaskan, “Bukan itu
maksudku. Sudahlah wajar kalau malaikat-malaikat itu beriman, karena memang
mereka berada di sisi Allah.”
Kemudian
para sahabat menjawab lagi, “Rasul-rasul, merekalah yang paling kuat imannya!”
Dan kembali Nabi menjelaskan, “Bukan itu maksudku. Sudahlah wajar kalau
rasul-rasul itu beriman, karena memang mereka menerima wahyu dari Allah.” Lalu
para sahabat menjawab lagi, “Kami, para sahabat, yang paling kuat imannya!” Dan
kembali Nabi menjelaskan, “Bukan itu maksud. Sudahlah wajar kalau kalian
beriman, karena memang kalian selalu bersamaku.”
Penasaran,
akhirnya para sahabat bertanya, “Lalu siapa ya Nabi, orang yang paling kuat
imannya?” Ternyata Nabi menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang hidup
setelahku, belum pernah melihatku, namun mereka itu beriman kepadakua. Sungguh,
aku rindu kepada mereka.” Subhanallah, ternyata orang-orang yang dimaksud Nabi
itu adalah kita! Iya, kita! Rupanya di hadapan Nabi, kita mendapat keistimewaan
tersendiri! Betapa besar perhatian Nabi kepada kita! Tidak pantaskah orang
seperti ini memperoleh keistimewaan di hati kita?
Ketika Hidup Dipertanyakan
Pernah tidak merasa seperti ini?
·
Rezekiku seret
·
Hidupku tidak nikmat
·
Aku tidak dicintai
·
Jodohku entah di mana
·
Relasi pun tidak seberapa
·
Masa depan terasa suram
·
Keberhasilan tidak kunjung datang
·
Hasil tidak jelas
·
Nasib begitu-begitu saja
Kalau
mau blak-blakan, inilah penjelasannya:
·
Bukan rezeki yang seret. Mungkin sedekah
kita yang masih seret
·
Bukan nikmat yang kurang. Mungkin syukur
kita yang masih kurang
·
Bukan cinta yang salah. Mungkin pemahaman
kita tentang cinta yang salah
·
Bukan jodoh yang tidak ada. Mungkin kepantasan
kita yang belum ada
·
Bukan relasi yang tidak ada. Mungkin integritas
kita yang belum ada
·
Bukan masa depan yang suram. Mungkin optimisme kita yang masih suram
·
Bukan keberhasilan yang tidak ada. Mungkin
keyakinan kita yang tidak ada
·
Bukan hasil yang perlu dipertanyakan. Mungkin
kegigihan kita yang perlu dipertanyakan
·
Bukan nasib yang begitu-begitu saja. Mungkin
ilmu kita yang begitu-begitu saja.
Anda boleh tersinggung, tapi sejujurnya memang
begitulah adanya. Tanya diri sendiri yaaa..Hehehe
Sabtu, 14 November 2015
Abaikan omongan-omongan yang menjatuhkanmu!!!
Raih Cita-Citamu, Raih Suksesmu
Sudah lama saya menonton video mengenai kisah seekor katak.
Kali ini saya akan menceritakannya lewat tulisan ini. Sangat menginspirasi.
Pada suatu hari ada segerombolan katak-katak kecil yang
menggelar lomba lari. Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang
sangat tinggi. Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikan
perlombaan, dan member semangat kepada para peserta perlombaan. Tak satu pun
penonton benar-benar percaya bahwa katak-katak kecil akan bisa mencapai puncak
menara.
Terdengar suara: “oh, jalannya terlalu sulitttttt! Mereka
tidak akan pernah sampai ke puncak” kata salah satu penonton.
Ada juga yang berteriak “tidak ada kesempatan untuk
berhasil, menaranya terlalu tinggi!!!” Katak-katak kecil mulai berjatuhan satu
persatu”
Penonton terus bersorak, “terlalu sulit!!! Tak seorang pun
akan berhasil”
Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah. Tapi ada
satu yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi. Dia tak akan menyerah!
Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara.
Kecuali satu katak kecil yang telah berusaha keras menjadi satu-satunya yang
berhasil mencapai puncak.
Banyak peserta bertanya, “bagaimana caranya katak yang
berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan?”
Ternyata, katak yang menjadi pemenang itu TULI.
Kita ambil hikmah dari kisah tersebut, ya!
Jangan pernah mendengar orang lain yang hanya bisa berbicara
saja. Karena segala sesuatu yang kamu dengar dan baca bisa mempengaruhi
perilakumu.
Dan yang terpenting…
Berlakulah tuli jika orang berkata padamu bahwa kamu tidak
bisa mencapai cita-citamu.
I CAN DO THIS.
#Iamtheagentofchange
Kamis, 12 November 2015
Bagaimana Agar Anak Berprestasi?
Bagaimana Agar Anak
Berprestasi?
Teringat saat-saat pembagian raport dulu waktu saya menjadi
wali kelas 7C Ibnu Rusyid dan sekarang 7D Umar bin Khattab di SMPIT Al-Fawwaz.
Hampir 90% orangtua tidak puas terhadap anaknya. Ini yang membuat saya membuat
tulisan ini.
Pembagian raport dimulai jam delapan pagi. Satu persatu
orangtua mendatangi saya kemudian curhat apa yang ingin mereka curhat kepada
saya, selaku wali kelas anaknya.
“Assalamualaikum. Silahkan duduk, Bu!” saya mempersilahkan.
Seperti biasanya, saya menunjukan dan menjelaskan nilai-nilai yang di dapat
sang anak.
“Astagfirullah. Aduuuuuuh kok nilainya kecil-kecil sih,
Mister?”
“Emang ya anak saya yang satu ini. Susah banget belajar.
Tiap hari saya harus ngomel-ngomel melulu”
“saya tanya tiap hari begini. ‘Kamu tuh enggak pernah ada
PR, apa? Kerjaannya tiduran terus. Bagaimana kamu mau berprestasi?’ ehhh dia
malah jawab ‘Mama kepo nih. Mau tahu terus. Nanti juga aku belajar.’ kan saya
sebal kalau anak saya begitu”
Saya mendengarkan baik-baik. Memang, ketika ada orang yang
ingin curhat, kita harus mendengarkannya dengan seksama sambil memberikan
solusi atau saran.
“Mr.Apen, bagaimana ya caranya biar anak saya berprestasi?
Saya kan mau kalau anak saya pintar matematika, IPA, Bahasa Inggris, atau
pelajaran-pelajaran lainnya. Pokoknya anak saya harus berprestasi”
Ayah-Bunda, Papa dan Mama wali murid ….
Mari kita perjelas dulu, apakah prestasi itu?
Rata-rata orang tua menganggap anaknya berprestasi bila tiap
semester meraih juara kelas atau lulus sekolah dengan nilai sempurna.
Oke, kalau definisinya begini, pertanyaan saya: kalau sudah
begitu, mau jadi apa?
Mungkin jawabnya, “jadi membuat bangga orang tua”
Pertanyaan saya lagi, “kalau sudah bangga, terus apa?”
Pertanyaan-pertanyaan ini yang harus terus kita ajukan,
karena hidup adalah untuk mencari tujuan. Selama tujuan itu belum didapat, kita
belum benar-benar hidup.
Sebaiknya, tanyakanlah pada si anak:
“kamu mau jadi apa, Nak? Apa pun cita-citamu, jadilah yang
terbaik di bidang itu. Apabila kamu ingin jadi petugas dinas kebersihan
sekalipun, lakukanlah, asalkan kamu menjadi yang terbaik di bidang tersebut.
Jadilah petugas yang membuat kota-kota di Jepang, bahkan ikan koi bisa hidup
tenang dalam selokan tanpa harus tercemari oleh sampah rumah tangga.”
Jadi, prestasi pertama bagi seorang anak adalah menemukan
tujuan hidup atau profesi impiannya.
Selanjutnya, prestasi adalah pencapaian terbaik dalam hal
yang paling kita sukai. Menjadi yang terbaik dalam bidang yang kita pilih,
itulah prestasi sejati.
Dan, ini tak ada kaitannya dengan nilai-nilai di sekolah.
Pencapaian nilai di sekolah itu adalah pengkerdilan atau penyesatan prestasi.
Bagaimana seharusnya prestasi anak itu?
Anak yang berprestasi adalah anak berbahasa dengan bahasa
Indonesia yang baik dan tidak pernah menggunakan kata “Elu dan Gue”, juga
bahasa-bahasa slank lainnya. Kemudian responsif jika dimintai pertolongan oleh
orangtuanya, dan sering membantu pekerjaan rumah tangga, mulai dari menyapu,
mengepel, mencuci, hingga menyetrika.
Kemudian anak yang jujur adalah prestasi berikutnya, apa
Ayah-Bunda tidak bahagia jika memiliki anak yang jujur dalam kata-kata dan
perbuatan? Pernah saya melihat dua anak Al-Fawwaz berjalan pulang sekolah
kemudian mereka menemukan uang. Salah seorang mengambilnya, lalu seorang
lainnya mencegah.
“jangan pernah mengambil sesuatu yang bukan milik kita
apapun alasannya”. Subhanallah, apa Ayah-Bunda tidak bangga memiliki anak
seperti itu?
Pun ketika acara Open House sekolah SMPIT Al-Fawwaz ketika
salah seorang anak mengajak jajan temannya, kemudian akan mentraktirnya jika
mau menemaninya. Anak itu tidak pernah mau menerima pemberian uang dari orang
lain yang tidak jelas peruntukannya. Dan, inilah sikap awal antimengemis dan
korupsi. Mereka juga anak-anak yang taat aturan sekolah.
Dalam bergaul mereka selalu mengajak teman-temannya untuk
berbuat baik dan ini mampu mengubah sikap dan perilaku beberapa teman mereka
yang kurang baik.
Kemudian siapa yang tidak senang kalau anaknya gemar
mengaji, dan mengajinya tanpa disuruh, kemudian sholat wajib tepat waktu. Artinya
prestasi anak ini sangat gemilang sekali. Kemudian, mana lebih berprestasi,
berprestasi di mata Allah atau berprestasi dengan nilai-nilai yang besar?
Sekali lagi, apa Ayah-Bunda masih merasa anak Anda tidak
berprestasi? Apakah masih tidak bangga?
“maksud saya bukan prestasi yang itu, tapi prestasi semisal
jadi juara kelas, atau juara umum di sekolah atau juara-juara lainnya?”
Prestasi sesungguhnya dalam kehidupan itu adalah berhasil
memiliki etika perilaku moral, seperti beberapa hal yang telah disebutkan
sebelumnya. Sementara prestasi-prestasi lainnya yang mungkin sering menjadi
kebanggan orangtua, adalah prestasi SEMU.
Prestasi semacam itu hanya diingat orang sementara waktu dan
akan terlupakan seiring dengan berlalunya waktu. Prestasi-prestasi semacam ini
kelak hampir tidak berdampak apapun baki kesuksesan hidup, juga di kehidupan
orang lain.
Sementara keberhasilan dalam kehidupan sebenarnya sangat bergantung pada etika, perilaku moral, apakah kita jujur dan bisa dipercaya.
Sedangkan kepintaran itu mudah dilatih, dan jika tekun berlatih apapun bisa
kita lakukan dengan baik dari waktu ke waktu.
Lucunya saat ini kita berada pada zaman dengan jumlah tenaga
kerja melimpah (karena banyak jumlah pengangguran), tapi seolah sulit mencari
tenaga kerja. Kenapa? Karena susah mencari orang baik, jujur, dan bisa
dipercaya.
Jadi, saya kira tidak masalah jika Ayah-Bunda memiliki
perbedaan persepsi dengan saya mengenai prestasi seorang anak. Boleh-boleh saja
menekankan prestasi ranking di kelas. Akan tetapi, tidak semua anak menyukai
semua pelajaran di sekolah. Tapi pilihlah salah satu dan fokuskanlah. Mari kita
belajar dari potret bangsa yang mengagungkan prestasi-prestasi semu, ketimbang
prestasi sejati, yakni etika, perilaku, dan moral. Lihat saja bagaimana potret
bangsa kita sekarang.
Dalam pengamatan saya selama ini, dari buku-buku yang saya
abaca mengenai orang sukses malah kebanyakan dari anak yang dianggap bermasalah
dan gagal di sekolah (tidak berprestasi), tetapi mereka malah menjadi anak-anak
yang luar biasa berprestasi! Kok, bisa?
Pada akhirnya, jauh lebih penting membangun etika, perilaku,
atau karakter anak, terlebih dahulu kita bantu mereka menemukan potensi emas
masing-masing yang sudah dibawa sejak lahir. Itulah resep utama dalam
membimbing anak-anak.
Yang menarik dan perlu disadari oleh kita semua adalah,
setiap anak sesungguhnya sudah membawa misi hidupnya masing-masing, berikut
potensi, minat, dan bakatnya. Kita tinggal menemukan dan menyalurkan saja agar
mereka kelak menjadi yang terbaik di bidangnya. Namun, tanpa etika, perilaku,
moral, atau akhlak yang baik, semua prestasi yang diraihnya akan hancur dalam
sekejap.
Lihatlah sekarang banyak mempertontonkan hal yang tidak
beretika dan tidak bermoral. Tidakkah kita mengambil pelajaran dan hikmah dari
semua kejadian ini? Memang tidak mudah untuk memahami ini dan mengubah mindset
yang sudah ditanamkan oleh orangtua dan system sekolah kita selama
bertahun-tahun tentang arti prestasi yang sesungguhnya bagi anak.
Jumat, 06 November 2015
Bagaimana Agar Anak Semangat Sekolah?
Bagaimana Agar Anak Semangat Sekolah?
Ini adalah tahun kedua
saya menjadi wali kelas di SMPIT Al-Fawwaz Cikarang. Beragam anak saya ketahui
karakternya. Terlebih sekarang mereka adalah remaja alias ABG. Masa ini adalah
masa peralihan di mana sifat dan sikap mereka banyak berubah. Maka dari itu
saya sering mendengarkan curhatan-curhatan para orangtua murid kepada saya. Seperti
pagi ini.
Kriiiiiing..kriiiing…kriiiiing
tiba-tiba ketika saya sisiran siap-siap berangkat ke sekolah handphone saya
berbunyi.
“Assalamualaikum, Mr.
Apen ini anak saya tidak mau sekolah. Gimana ini?” kata seorang ibu dalam
telepon tersebut.
“Iya kenapa, Bu?” Tanya
saya balik.
“Saya juga tidak tahu. Akhir-akhir ini saya sering
berantem pagi-pagi sama anak saya. Susah banget kalau di suruh sekolah”
“Makin hari makin malas
saja. Sebel saya jadinya” lanjutnya.
“Masa tiap pagi saya harus
menggedor kamarnya sampai bangun membuka pintu. Belum lagi dia lamaaaaaa…sekali
di kamar mandi.”
“Ini bagaimana, Mister?”
Yang bisa saya katakan:
anak malas pergi sekolah adalah suatu AKIBAT. Karena itu, pasti ada
penyebabnya. Ya, kan? Ada sebab, ada akibat. Ilmuwan Isaac Newton menyebutnya “
aksi dan reaksi”. Nah, tugas orangtua adalah mencari penyebabnya melalui proses
telusur.
Proses telusur
memerlukan kedekatan orangtua dan anak. Bila tidak dekat, bagaimana anak mau
menceritakan penyebabnya? Hati-hati, jangan-jangan selama ini anak ingin
bercerita, tetapi kita, orangtua yang telah memblokirnya.
Misalnya, anak
berseloroh, “guruku galak banget, deh …”orangtua memblokir dengan berkata, “makanya
jangan bandel. Kalau enggak bandel ya pasti enggak akan dimarahi guru.”
Atau anak mengeluh,”
pelajaran matematika tuh nyebelin banget, sih!”
Orangtua lagi-lagi
memblokir dengan, “kamu saja yang malas belajar kali”
Kalau begini, anak
pasti enggan bercerita apa-apa pada ayah-bunda. Baru ngomong satu kalimat, ia
sudah dinasihati dan dituding. Apalagi kalau cerita satu paragraf? Lebih baik
tutup mulut deh, mungkin begitu pikir anak.
Jadi bagaimana orang
tua bisa melakukan proses telusur untuk
mengungkap kenapa anak malas ke sekolah?
Bagaikan seorang wartawan, “wawancarailah” mereka. Bertanyalah
pada anak tanpa pretensi, kepentingan, menuduh, apalagi menghakimi. Dengan begitu,
mereka akan bicara terbuka dengan nyaman pada ayah bunda.
Jika anak kita
kebetulan bertipe terbuka (apalagi jika hubungan Anda dan anak cukup dekat),
biasanya dengan pertanyaan terbukapun ia akan langsung terpancing untuk bercerita
banyak. Namun jika anak ayah bunda bersikap tertutup, pancinglah ia dengan
pertanyaan pilihan ganda.
Suatu ketika saya
pernah membantu seorang anak yang agak tertutup, katakanlah namanya Althav. Maka
saya wawancarai ia dengan pertanyaan pilihan ganda untuk memancing ia
bercerita.
“Benar Thav, kamu malas
sekolah?” saya bertanya
“Iya, sebal” jawabnya
singkat
“Yang bikin sebal
berapa orang? Sedikit atau banyak?” pancing saya.
“Banyak” ia menjawab
singkat.
“Wah, banyak ya. Siapa saja
tuh? Guru, ya?”
Ia mengangguk.
“Gurunya banyak atau
sedikit?
“Dua”
“Oooh… dua orang. Kalau
teman ada juga, enggak?” Althav mengangguk lagi.
“Berapa orang?”
“Banyak”
Sedikit demi sedikit
saya mengorek keterangan darinya. Akhirnya terungkaplah penyebab utamanya
mengapa Althav malas-malasan sekolah, yakni di-bully oleh sesama siswa. Seram, ya? Padahal sekolah tempat Althav
belajar adalah sekolah keren, terkenal, dan mahal pula. Sekolah mahal memang
bukan ajminan, ternyata, ya?
Setelah berhasil
memancing Althav cerita, saya tidak memberika solusi. Nah, ini satu lagi kunci
bicara pada remaja: tak perlu memberi solusi secara terang-terangan, tetapi
berikanlah umpan . bila kita member solusi, kita berasumsi bahwa ia bodoh. Padahal
anak-anak kita sangat cerdas dan paling tahu solusi masalahnya sendiri.
“Jadi, menurut kamu
jalan keluarnya bagaimana, Thav?” tanya saya akhirnya.
“Hmm….” Ia tampak
berpikir.
“apa kamu ingin pindah
sekolah?”
“Hmmmm….”
“Atau kamu ingin pindah
kelas?
Althav pun berpikir dan
mengukur dirinya.
“Aku enggak mau pindah
sekolah. Nanti harus penyesuaian diri lagi kalau pindah. Belum tentu enggak
ketemu hal begitu lagi” jawab Althav setelah berpikir panjang.
Ujungnya Althav
memutuskan untuk minta pindah kelas dan belajar
bela diri.
Setelah masalahnya
terungkap dan anak kita sudah mendapatkan solusi untuk dirinya sendiri,
selanjutnya Ayah-Bunda cukup cek dan cek ulang. Tanyakan sesekali padanya, “bagaimana
di sekolah? Kamu bisa mengatasi, enggak?”
Saya ingat Larry King,
pembawa acara terkenal Larry King Live di CNN berkata, “komunikator yang baik
bukan mereka yang pandai bicara, melainkan mereka yang pintar bertanya”
Jadi, ketika
berkomunikasi dengan anak-apalagi saat melakukan proses telusur-yang perlu Anda
lakukan adalah bertanya, bertanya, dan bertanya. Namun, bertanyalah tanpa
menghakimi anak. Satu kata seperti “kan” hanya akan membuat anak menutup diri.
Misalnya, “kamu pasti
begitu, kan?” atau “pasti deh, kamu blab la bla….” Ini pilihan kata yang
menghakimi. Jadi, aturlah agar pertanyaan, kalimat, nada, dan bahasa tubuh Anda
tidak membuat anak merasa diadili. Dengan begitu, ia akan terbuka pada
orangtuanya.
Selasa, 03 November 2015
Jadilah Orang Proaktif untuk Sukses
Jadilah
Orang Proaktif untuk Sukses
Menjaga sikap atau perilaku tentu memerlukan
berbagai latihan, kdang yang muncul dalam diri kita adalah sikap-sikap reaktif
yang merugikan diri sendirir. Sikap proaktif
makin sulit diimplementasikan dalam situasi yang kritis, genting dan mendesak. Namun hakikatnya Anda tetap mampu dan sanggup
menjadikan sikap proaktif sebagai habits sehari-hari walau keadaan gawat dan ekstrim
sekalipun. Bagaimanapun sikap proaktif
jauh lebih berhasil guna daripada sikap reaktif, dalam pengembangan diri Anda
dan orang lain.
Dalam tahap lanjut dijelaskan bahwa perbedaan antara
sikap proaktif dan sikap reaktif dibedakan dari fokus yang dilakukan. Ada 2 jenis lingkaran dalam sikap hidup Anda,
berdasarkan Buku Stephen R Covey, 7 Habits, yakni lingkaran pengaruh dan
lingkaran kepedulian.
1. Lingkaran
pengaruh adalah hal-hal yang berada dalam pengaruh Anda sendiri dan dapat Anda
kendalikan, manfaatkan atau daya gunakan.
Hal yang menjadi pilihan Anda baik langsung atau tidak langsung. Hal-hal dalam lingkaran pengaruh diantaranya
adalah : perkataan, sikap tubuh, tindakan, gerakan tangan dan kaki, sorot mata,
suasana hati, perasaan dan emosi serta lainnya.
Hal yang mampu Anda pengaruhi sebagai pilihan adalah hal dalam lingkaran
pengaruh.
2. Lingkaran
kepedulian adalah hal-hal yang berada di luar jangkauan Anda untuk dapat
dipengaruhi dan mengikuti kehendak Anda.
Anda tidak mampu mempengaruhi sedikitpun Hal tersebut untuk sesuai dengan
keinginan. Hal-hal dalam lingkaran kepedulian
hanya bisa disikapi dengan cara Anda membawa diri sendiri. Semua faktor diluar kuasa Anda adalah hal yang
masuk dalam Lingkaran kepedulian, seperti atasan, bawahan, rekanan, kolega,
cuaca, jalan, lingkungan dan lainnya.
Kemampuan dan kemauan Anda menjaga sikap diri sendiri berdampak terhadap
luas lingkaran kepedulian yang mengecil dan memperbesar lingkaran pengaruh.
Fokus sikap proaktif adalah pada diri sendiri, untuk
menyesuaikan perbedaan terhadap lingkungan.
Sikap proaktif mengajak Anda menjadi pribadi dan individu yang adaptif,
kreatif dan komunikatif. Berikut contoh
perbedaan implementasi sikap proaktif dan sikap reaktif dalam kehidupan
sehari-hari demi sukses Anda:
a. Inisiatif.
Sering Anda mendengar bahwa orang proaktif adalah
tipe orang yang punya inisiatif dalam pekerjaannya. Inisiatif adalah kemampuan seseorang untuk
mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan keadaan yang terjadi dari sebuah pekerjaannya
di masa datang. Inisiatif adalah sikap
tidak menunggu apa yang akan terjadi sebelum bertindak. Inisiatif adalah tindakan yang dilakukan
berdasarkan nilai yang telah dipikirkan dengan cermat. Sedangkan orang reaktif akan menunggu orang
lain, lingkungan dan kondisi untuk menggerakkannya.
b. Tanggung
Jawab.
Sikap proaktif memiliki pandangan bahwa keadaan
tidak akan mampu mengubah hasil pencapaian jika tidak melakukan perubahan
sendiri. Tanggung jawab adalah perbedaan
signifikan antara sikap proaktif dengan sikap reaktif. Sikap reaktif akan menyalahkan keadaan,
lingkungan dan faktor lainnya, dengan mencari-cari alasan.
c. Solutif.
Sikap proaktif mampu memberikan pemecahan yang
beragam dalam menghadapi permasalahan.
sehingga tidak menjadi sebuah solusi tunggal dalam mengantisipasi kemungkinan
yang terjadi. Sikap proaktif mempunyai
banyak alternatif solusi dari sebuah problematika, dengan analisa dan
perhitungan matang. Sikap reaktif
cenderung kaku dengan solusi, berpikir singkat dan kurang perhitungan atau
tergesa-gesa.
d. Positif.
Setiap kerangka berpikir selalu diasumsikan dengan
hal positif dan menjauhkan diri dari fokus pada kelemahan. Inilah perbedaan lain sikap proaktif dan
sikap reaktif. Berpikir positif atau
optimis dalam tindakan menjadikan orang dengan sikap proaktif makin handal
melakoni tahapan sukses.
Sikap proaktif berarti menyadari bahwa Anda memiliki
kebebasan memilih, dan memfokuskan diri pada lingkaran pengaruh untuk
memperkecil lingkaran kepedulian. Orang
proaktif menomorduakan mood, perasaan, emosi, impulsif dan mengutamakan
nilai-nilai hidup. Jadilah orang
proaktif untuk sukses.
Langganan:
Postingan (Atom)



